HARUSKAH DITINGGALKAN?

Di dalam ruang meeting berisi bbrp wakil manajemen perusahaan outsourcing itu mendadak semua terdiam. Sang presdir mengangguk2 dan menggumam tdk jelas. Para manajer itu menatap nanar presdirnya berharap mendapat keputusan yg jelas.

“Saya Putuskan permintaan perpanjangan kontrak dari klien ini kita negosiasi ulang. Kita minta premi asuransi dialihkan ke program lain jika betul mereka ingin lanjut kerjasama dengan kita”. Demikian akhirnya sang Presdir berkata dengan keras dan tegas.
*standing applause*

Ehemm… Yang ingin lanjut kerjasama siapa? Pliss deh…
Klien atau vendor? Lah wong saat ini si vendor ini ternyata BU BGT (butuh uang banget) karena sudah 2 tahun omzet mereka menukik tajam akibat setoran riba. Tahun depan pun hanya tertinggal 4 proyek kecil dari 20 proyek yg biasanya di garap. Nilai perpanjangan 2 proyek tambahan ini juga cukup menggiurkan yaitu 10 milyar per tahun. #Nyesek

Para manajer terhenyak & mendadak merubah posisi duduknya serta mencoba menawar keputusan itu “Tapi pak, program pensiun, BPJS & premi asuransi itu dalam pandangan klien merupakan compliance (kepatuhan) terhadap UU depnaker. Bagaimana enaknya nanti kita menjelaskan keinginan kita tadi ke klien?”

Seorang direktur yg duduk di sebelah presdir kembali termenung walaupun awalnya dia juga yg melontarkan issue itu. Diskusi di beberapa grup kajian mengenai haramnya asuransi kemarin cukup membuat dia sakit perut dan pegel2. Dia pun buru2 berkonsultasi ke para ustadz dan membaca bbrp buku muamalah kontemporer mencari kebenaran & “pembenaran”… Ujung2nya sama!!! Asuransi mengandung spekulasi, judi dan riba… Astaghfirullah… Haruskah mereka meninggalkan 2 proyek dengan nilai 10 milyar itu? Atau haruskah mrk meninggalkan perintah Allah demi omzet 10 milyar… WOW… #LapKeringet

Hmm… Selama ini dalam kontrak jasa outsourcing selalu ada dituliskan kewajiban vendor (yg diminta oleh klien) untuk mendaftar dan membayarkan premi (dana dari klien) ke BPJS dan ke asuransi kesehatan swasta untuk karyawan outsourcing. Dan ini sudah menjadi standard bisnis outsourcing selama ini.

*Puter otak*
Kemudian salah seorang direktur mengajukan usulan… “Baiklah kita coba ikhtiar sekali lagi untuk mendapatkan rezeki yg halal.
Kita nego dengan klien dimana alokasi dana utk premi kesehatan karyawannya dialihkan dengan skema sistem reimburstment subsidi silang yg akan kita kelola sendiri penggunaannya atau bahasa kerennya “Self Insurance”. Dari pihak klien mungkin tidak perlu ada tambahan plafon budget. Dari pihak karyawan akan mendapatkan benefit yg sama krn kita akan tetap memberikan max plafond yg bisa digunakan spt jg yg dijanjikan asuransi swasta. Dari pihak kita memang akan ada resiko yang lebih besar ketika banyak karyawan yg kemudian jatuh sakit tapi kita percayakan semuanya pada kehendak Allah. Seperti janjiNYA, Allah SWT yang akan menjamin seseorang sakit atau sembuh spt yg tertera dalam surat As-Shuaara – 80 : “ketika aku sakit, DIAlah yang menyembuhkan aku”. Bismillah, mari kita percaya akan janji Allah saja… ”

Dan meeting pun ditutup. “Bismillah… Mari kita berikhtiar. Berprasangka baik bahwa klien mau menerima usulan baik kita walau dalam penyampaiannya harus bijak krn pihak klien bisa saja memiliki pandangan yang bertolak belakang mengenai asuransi. Kita juga akan menawarkan skema yg sama pada bbrp klien yg proyeknya sudah berjalan dg resiko yang sama yaitu kehilangan proyek.”

Dan Presdirpun lega dengan keputusan dan keyakinannya. Doanya di dalam hati : “Ya Allah… Kami ikhlas tinggalkan laranganMU…kami hanya ingin RidhoMU … Kami ingin menjadi kekasihMU hingga ENGKAU bersedia mendengarkan doa2 kami ya Allah… Jika engkau tidak Ridho akan perpanjangan kontrak ini ya Allah melalui penolakan klien atas usulan baik kami, kami ikhlas melepaskan proyek2 ini. Kami yakin Engkau akan berikan ganti yang jauh lebih baik. Amin”

 

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.

css.php